Fenomena cewek dan sepak bola itu kayak cowok dan girlband. Bukan cowok dan boyband loh. Apalagi cowok dan **A**. Cowok itu fans berat Rangga pula. Dicky juga. Itu mah... :o
Cewek dan sepakbola. Gak aneh sih, cuma gak biasa aja. Karena kebanyakan cewek lebih suka hal-hal yang feminim. Sementara sepak bola? Gak feminim pastinya dan gak semudah kelihatannya. Nah, kalo gak ngerti kita gak bakal bisa masuk ke dunia itu. Semacam susah dapat chemistrynya. Kayak dicomblangin temen, tapi kurang srek. Gimana mau jadian? *Apa sih ini, nyambungnya kemana-mana.
Jadi, ada apa sih antara cewek dan sepak bola? Apakah mereka in a relationship? Complicated? Lagi break atau dua makhluk jomblo yang bukan sohib, bukan pula sahabat karib? Bukan itu kali ya permasalahannya -___-
Ada gak sih cewek yang suka sepak bola? Yang cuma modus? PHP? Cinta mati? Cinta buta? Atau cinta bertepuk sebelah tangan? Hmmm... Pengen tau banget?
Yuk cuss, kita ulas tipe-tipe cewek yang suka sepak bola dan apa aja alasan mereka suka sepak bola
This is it...
1. Tampang
Ini nih biasanya hal pertama yang bikin cewek nyangkut ama yang namanya sepak bola. Gak bisa dipungkiri, udah kodrat alam kali ya. Biasanya sih yang cuma modal tampang ini ngefansnya ya cuma sama satu pemain itu aja. Tapi gak jarang juga yang begini jadi fans beneran. The real fans gitu. Kayak dalam suatu hubungan kalo pengen serius kita harus kenal keluarga si dia, teman-teman dia, kehidupan dia. Di sepak bola, cewek-cewek ini juga lama-lama jadi tahu tentang kehidupan pesepakbola tadi, main di klub apa, gaya mainnya gimana dan jadi suka sepak bola seutuhnya.
2. Trend
Ngikutin trend, belagak keren, pengen beken. Cewek labil.
Cewek yang begini “suka” sepak bola biar dikira asik dan up to date. Biar gak bengong kalo lagi nongkrong apalagi bareng teman-teman cowoknya... yang bukan bencong. Biasanya mereka cuma tau Messi dan Ronaldo. Sampe ada yang bilang ”If a girl knows footballers other than Messi and Ronaldo, then she loves football”.
3. Instantly
Yup, secara tiba2 suka sepak bola. Mereka yang sehari- harinya gak peduli sama sepak bola, tiba-tiba heboh ngomongin bola. Kenapa? Karena Timnas yang lagi main. Jiwa Nasionalisme mereka keluar cetar membahana badai khatulistiwa Asia Afrika. Waktu lagi nonton mata mereka
berapi-api. Hidung mereka berasap-asap. Mereka berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Hati kecil mereka bergejolak, nurani mereka berteriak “MANA GOLNYAAA?!!!!”. Because more than 50% sih gak peduli-
peduli banget ama permainannya, tapi score akhirnya. Agak-agak glory hunter ya. Biarin deh yang penting #semuacintatimnas ~
4. Tanpa Alasan
Gimana ya cara ngegambarin alasan yang satu ini. Dimana alasan cewek itu suka sepak bola sendiri adalah tanpa
alasan yang berarti gak ada alasan yang bisa dijelasin tentang alasan mereka suka sepak bola karena tanpa
alasan mereka suka sepak bola. Bingung? Hmmm... sama! Mungkin kata2 “love in the first sight” cocok kali ya buat cewek ini. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Gak tau kenapa mereka tertarik aja sama sepak bola. Bahkan mereka lupa sejak kapan suka
sepak bola dan kenapa. Jangan-jangan mereka ini sebenarnya udah pikun. Cewek-cewek veteran alias lansia. Who
knows. Ah, sudahlah~
5. Die Hard Fans
“Fans Garis Keras! Loyalitas Tanpa Batas!”. Itulah semboyan mereka sekaligus kalimat yang dapat
mendeskripsikannya. Walau cuma sepersekian persen dari sekian banyak persen cewek suka sepak bola yang
termasuk kategori ini. Dan bisa dihitung pake kalkulator *anti mainstream. Tapi tetap ada kok. Mereka ngerti sepak bola dan paham
permainannya. Mulai dari kiper, striker, bek, gelandang, anak gawang, Pak Bambang, Mas Dadang, Mang Ujang, Rumah Gadang, dan orang Minang *salah fokus*. Dan biasanya sih yang begini banyaknya di Eropa sana. Fans klub-klub besar Eropa kayak ARSENAL dan sebagainya yang gak bisa disebutin satu-satu. Muehehehehehe. Pokoknya cewek ini Dewa deh! Cinta
mereka sama sepak bola itu sampe tumpeh-tumpeh *dejavu.
Oke, itu aja kali ya beberapa alasan dan kategori cewek yang suka sepak bola. Walau sebernarnya ada 1001 alasan cewek suka sama sepak bola dan ada
1001 alasan juga cewek gak suka. Itu hak masing-masing. Atau mau suka hal lain misalnya mancing, main bowling, travelling, melihara kucing, anjing, kepiting. Terserah ding!!! Gak perlu di ambil pusing...
And this is the ending, makasi
buat yang udah reading. :)
Salam Garing! Keep Garing
and Forever Garing~
Minggu, 02 Desember 2012
Sabtu, 10 November 2012
Bukittinggi City
| Jam Gadang |
Bukittinggi is one of the larger cities in West Sumatra, Indonesia, with a population of over 91,000 people and an area of 25.24 km². It is in the Minangkabau highlands, 90 km by road from the West Sumatran capital city of Padang. It is located at 0°18′20″S 100°22′9″E, near the volcanoes Mount Singgalang (inactive) and Mount Marapi (still active). At 930 m above sea level, the city has a cool climate with temperatures between 16.1°-24.9°C.
The city was known as Fort de Kock in colonial times in reference to the Dutch outpost established here in 1825 during the Padri War. The fort was founded by Captain Bauer at the top of Jirek hill and later named after the then Lieutenant Governor-General of the Dutch East Indies, Hendrik Merkus de Kock. The first road connecting the region with the west coast was built
between 1833 and 1841 via the Anai Gorge, easing troop movements,
cutting the costs of transportation and providing an economic stimulus
for the agricultural economy. In 1856 a teacher-training college (Kweekschool)
was founded in the city, the first in Sumatra, as part of a policy to
provide education opportunities to the indigenous population. A rail line connecting the city with Payakumbuh and Padang was constructed between 1891 and 1894.
During the Japanese occupation of Indonesia in World War II, the city was the headquarters for the Japanese 25th Army, the force that occupied Sumatra. The headquarters was moved to the city in April 1943 from Singapore and remained until the Japanese surrender in August 1945.
During the Indonesian National Revolution, the city was the headquarters for the Emergency Government of the Republic of Indonesia
(PDRI) from December 19, 1948 to July 13, 1949. During the second
'Police Action' Dutch forces invaded and occupied the city on December
22, 1948, having earlier bombed it in preparation. The city was
surrendered to Republican officials in December 1949 after the Dutch
government recognized Indonesian sovereignty.
The city was officially renamed Bukittinggi in 1949, replacing its
colonial name. From 1950 until 1957, Bukittinggi was the capital city of
a province called Central Sumatra, which encompassed West Sumatra, Riau and Jambi. In February 1958, during a revolt in Sumatra against the Indonesian government, rebels proclaimed the Revolutionary Government of the Republic of Indonesia (PRRI) in Bukittinggi. The Indonesian government had recaptured the town by May the same year.
It is a city popular with tourists due to the climate and central location. Attractions within the city include:
- Ngarai Sianok (Sianok Canyon)
- Lobang Jepang (Japanese Caves) a network of underground bunkers and tunnels built by the Japanese during World War II
- Jam Gadang — a large clock tower built by the Dutch in 1926.
- Pasar Atas and Pasar Bawah are traditional markets downtown.
- Taman Bundo Kanduang park. The park includes a replica Rumah Gadang (literally: big house) with the distinctive Minangkabau roof architecture) used as a museum of Minangkabau culture and a zoo. The Dutch hilltop outpost Fort de Kock is connected to the zoo by the Limpapeh Bridge pedestrian overpass.
- Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta (Museum of Bung Hatta Birthplace), the house where Indonesian founding father Mohammad Hatta was born, now a museum.
Langganan:
Postingan (Atom)